Prambanan: temple of love –or lust?

Posted: 24/06/2010 in picturetells

Setelah 17 tahun, ya tujuh-belas-tahun, saya tidak pernah masuk ke kompleks Candi Prambanan, akhirnya di sebuah akhir pekan di bulan Juni lalu saya tergopoh-gopoh juga menapaki batu demi batu yang masih menyisakan bukti guncangan gempa yang melanda Jogja empat tahun lalu.

Terlepas dari guratan legenda yang masih meruap di sela-sela batunya, candi ini masih saja misterius. Masih banyak do’s dan don’ts nya. Seperti salah satunya, dilarang pacaran di Prambanan. Bah, larangan yang konyol sebenarnya. Seperti emang tidak ada tempat lain untuk pacaran? Lalu terusan dari mitos tersebut yang mengatakan kalau tetep ngeyel, maka putuslah tali cinta kalian. Ya apapun lah. Secara kalau mau putus, ya putus aja kali. Tak usah repot ngatur rencana piknik ke Prambanan.

Kenapa ini adalah temple cinta atau lust? I really can’t decide. Saya masih bingung dengan obsesinya Bandung Bondowoso, dan atau betapa cemennya Loro Jonggrang untuk sekedar bilang: tidak. Aku gak mau sama kamu. Ngapain harus berputar-putar? Ngapain harus being such so dramatic?

Jawaban sederhananya adalah kalau tidak begitu, tidak akan ada cerita seputar candi keseribu untuk menggenapi bukan? Apapun deh, lagi-lagi apapun.

Inilah satu gambar yang untung masih sempat terekam sebelum matahari benar-benar setting di ujung barat. Sebelum akhirnya satpam candi benaran sudah tidak sabar menungguiku yang datangnya memang sudah kesorean.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s