delapan puluh persen dari total durasi film kita pelototin dada Jacob

Posted: 04/07/2010 in agakserius

Delapan puluh persen (walau tanpa hitungan pasti) dari total durasi film Eclipse, kita puas pelototin dada Jacob. Untuk orang yang sebenarnya tidak terlalu ngeres, ya saya itung-itung, otak saya ngeres kalau bulan purnama saja, rasanya hanya hal itu saja yang bikin saya agak merasa ada untungnya mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk tiket nonton. Selebihnya, agak emosi. Agak ya. Tidak sampai di level benci. Bagaimana saya membenci sebuah film waralaba yang memang tujuannya untuk eforia visual saja? Tidak akan adil, kan?

Saya bukan pembaca trilogi Twilight. Saya tidak pernah tertarik dengan buku setipe Harlequin gitu. Bukan kenapa-kenapa atau sok-sokan, rasanya baca buku matematika pun tidak sedepresi hasilnya dengan baca buku romans macam gituan. Saya selalu punya masalah dengan determinasi khayalan dan realita. Buku yang terlalu indah dan tidak realis akan jadi bahan bakar api unggun. Bagi saya, karakter macam Bella tidak akan pernah hidup dalam dunia nyata. Bella benar-benar impian. Dan membaca impian bukanlah preferensi saya. Nurut saya, dan yang suka saya baca, karakter impian pun harus dekat dengan kenyataan. Biar ngebayanginnya enak. Kecuali kalau dari awal emang sudah surealis, mau gak mau ya harus diterima. Tapi kan ini tidak. Lokasi dan penggambarannya semuanya terasa ‘dekat’. Masih berlokasi di bumi. Masih ngambil setting waktu jaman sekarang. Masih ada adegan membahas Romeo dan Juliet.

Edward pun sama anehnya. Mana ada vampir dengan tingkah laku dan kesopanan macam pengikut Buddha yang sangat fanatik gitu? Vegetarian, tidak pernah menyakiti orang, bahkan jangan-jangan dia juga sering meditasi. Tampan pula. Ya kalau masalah tampan agak bisa dimengerti sih… secara konon katanya vampir selalu punya sex appealing yang tinggi yang bisa bikin para mangsanya datang mendekat. Ini mitos yang gagal diperlihatkan di tiga film Twilight. Ingat film Queen of The Damned (2002)?  Lestat si vampir yang jadi rock star  dengan suara hasil minjem Jonathan Davis yang setan banget. Dalam film itu Lestat terlihat begitu sensual… seksi yang membunuh. Benar-benar L’Homme Fatale. Sedang Edward? Ummmm… sorry to say, dia malah terlihat lebih membunuh di Remember Me. Still, selain semua cast di Interview with a Vampire yang mantap-mantap itu, Stuart Townsend jelas vampir yang walaupun gak ‘lapar’ akan dengan sukarela saya kasih darah saya. Ya tapi sebelum digigit putus leher saya, bisa gak gigit-gigit gemes dulu, boleh gan? *toyor toyor toyor*

Nah… giliran Jacob. Sudah agak lumayan sih, walaupun kurang buas dan akting marahnya yang cenderung agak lebay kalau gak bisa dibilang sok teatrikal. Tapi siapa sih sebenarnya Jacob ini? Sebagai serigala alfa kenapa dia rela memberikan jabatannya kepada Sam? — ada dialog antara Jacob dan Bella yang secara implisit mengatakan dia adalah ketua rombongan para lelaki separuh telanjang itu. Lagi-lagi tidak realis dan kurang ada alasan kuat kenapa dia berbuat seperti itu.

Oya, wajahnya pun terlalu bersih untuk jadi seekor serigala jadi-jadian. Mungkin karena pemuda Hollywood gak ada yang segarang tapi tampan kayak Benecio Del Toro.

Apapun lah… walaupun ceritanya bertele-tele dan luaaambaaaaaaan poooool (kaya kabinet kita sekarang) rasanya kemarahan saya akan lebih tepat dilemparkan kepada David Slade. Film sebelumnya Hard Candy cukup mindblowing, belum lagi 30 Days of Night (bukan. bukan karena ada Josh Hartnett ya) disebut-sebut sebagai salah satu horor yang cukup mengerikan. Yah paling gak untuk level Hollywood film yang gitu udah horor banget. Rasanya sih saya pengen marah, karena memang terbukti: sutradara bagus kadang gak bisa menolong cerita yang emang udah payah dari sononya.

Maka tulisan gak berdasar ini akan saya tutup dengan ucapan hamdallah atas eforia melihat dada Jacob dan rambut Edward yang superb itu. Selebihnya… biar saja saya kubur jauh perasaan kecewa ini dan melampiaskan pada Y Tu Mama Tambien. *shit… mana ya DVD itu????*

Lalu saya pun kecewa dobel.

ps. bahkan Queen of the Damned pun saya anggap agak kelewatan menginterpretasi sekuel Interview with a Vampire. Tanpa mengurangi rasa hormat pada semua fans trio kwek kwek itu, tulisan ini adalah murni tulisan penonton kecewa dan gak ngerti apa-apa soal dunia vampir, srigala jadi-jadian dan juga tentang dunia cewek depresif yang jadi rebutan. Hukumnya sah untuk beda pendapat. Tapi saya yakin pendapat kita soal dada Jacob pasti sama: menggiurkan. Betul?

Comments
  1. ari says:

    hwahahahaha… ;D

  2. datiedatie says:

    jadi ingin menonton Eclipse setelah baca ini..hmmm, menggiurkan ya?😀

  3. deviw says:

    hahahaha… tak pikir sampeyan posting juga dadane si Jacob,makanya tak klik. mo bandingin, sexy mana, dada si jacob sama dada ayam goreng tepung😛

  4. deviw says:

    hahaha geloooo, sejenis ayam kodok kah? aku latihan membuatnya sabtu lalu, cekidot the pic di FBku hihihi

    • gelo-lio liyooo
      gak ngerti ayam opo yg penting kaya enak itu. mbok jangan cuman difoto, tapi di-JNE-kan… siap menerima katering dan paket berbuka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s