i heart anton

Posted: 07/07/2010 in agakserius

Siapa pun yang namanya Anton, jangan ge er dulu. Judul selalu harus dibikin agak menipu -eengg… menggugah selera– Anton yang kumaksud adalah Anton Corbijn. Tukang foto sekaligus sutradara kelahiran Belanda, 20 Mei di tahun yang sama dengan bapakku lahir. Ya. Aku mustinya memanggilnya minimal Pakdhe. Maka judul akan kuralat: Aku Cinta Pakdhe Anton.

Aku bukan fotografer. Motret pake kamera HP saja sering salah setting. Tapi aku penikmat gambar, apapun. Tapi entah kenapa begitu pertama kali melihat DVD kumpulan karya Anton Corbijn, aku langsung berasa hampir pingsan seperti kehabisan nafas. Waktu itu sekitar tahun 2005 atau 2006 (lupa tepatnya).

Dari DVD itu mulailah aku sadar aku tertarik pada beberapa video musik garapannya Corbijn (lama-lama risih juga pake nama Anton. Berasa kaya baca novel tahun 80-an gak sih? Yang karakter cowoknya sering banget bernama Anton?)

Satu video yang membuatku setep-setep saat itu adalah videonya Joseph Arthur, In The Sun… I was like saying: hey i knew this song, but i think it was michael stipe’s. Ribut dan eyel-eyelan sama mantanku saat itu. Dia bilang, “Orang ini video lawas yo…” “Iya… tapi aku yakin banget, kemaren waktu siaran aku muter lagu ini”.

Debat kusir yang nyaris berakibat pertumpahan darah saat itu. Ya, tolol memang. Sebuah eyel-eyelan cuma berdasar asumsi, satunya ngeyel gak percaya dikira aku lagi halusinasi (yeah… aku keseringan ngigaunya sih daripada sadar, maka apapun yang kukira pernah kulihat kudengar, sering dikira mimpi yang kebawa bangun).

Esok harinya, baru deh bisa kubuktikan bahwa aku benar. Michael Stipe benar telah MENDAUR ULANG lagunya Joseph Arthur yang In the Sun itu. Jadi aku benar. Tapi dia juga benar. Kami sama-sama benar. Jadi tidak ada istilah aku ngigau atau deja vu. Agak ironis sebenarnya. Gara-gara DVD Anton Corbijn, aku bisa langsung jatuh cinta (cenderung obsesif kompulsif) pada dua lelaki sekaligus: Joseph dan Corbijn (ok, kalau Joseph aku gak risih nyebut nama depannya).

Terlepas memang lagunya kereeeeeen banget, videonya juga ‘tak bisa diungkapkan dengan kata-kata’. Sebaiknya lihat sendiri dan dengarkan. Kalau frekuensi otak kita sama, kemungkinan besar, kamu akan setuju bahwa lagu dan video ini punya ‘sesuatu’ yang tak terkatakan. Klik di sini untuk melihat.

IMHO, yang kurang begitu humble tapi agak condong pada ngawur, di video ini Joe berperan sebagai malaikat dengan sayap yang makin besar dan membaca buku terlalu dekat. Kenapa aku merasa kayak ini versi tandingan dari malaikatnya Wim Wenders ya? Apalagi di ending, ‘dia’ berubah menjadi malaikat perempuan -androgyny?- dan menunggui seseorang mirip Joseph berbaju mirip Elvis sedang menyanyi. Teringat sama U2 – Stay?

Ah sudahlah. Yang penting sejak itu, selain jadi suka dengan Joseph, yang sebenarnya sudah telat paling tidak lima tahun sejak lagu itu dirilis, aku pun jadi secara membabi buta mencari dan memelototi foto-fotonya Corbijn. Termasuk dibela-belain nunggu donlotan film Control semalaman suntuk.

Control sendiri film yang kurang begitu pas kurasa untuk menggambarkan Joy Division dan Ian Curtis. Tapi selebihnya, dan lagi-lagi, gambarnya… lagi-lagi dan lagi mencuri hatiku. Untung aku punya stok hati sekodi. Sementara stok masih aman. Masih nyisa tiga. Eh, dua ding. Yang satu barusan ilang kecopetan lagi.

Dan sekarang aku lagi deg-degan menunggu The American, feature filmnya yang bentar lagi rilis. Walaupun judulnya The American, selain George Clooney, sedikit -hampir tidak ada malah- yang asli orang Amerika bermain di film ini.

lebih lanjut soal Pakdhe Anton Corbijn & The American di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s