distopia

Posted: 17/08/2010 in agakserius

Ini masalah hati. Lagi-lagi saya patah hati. Sendirian, tak ada yang sudi mau menemani. Katanya kalau mereka tidak bilang cinta hari ini dan ikut perayaan cinta, mereka takut dibilang warga negara yang murtad. Durhaka. Tidak tahu diri. Ekstrimis. Layak disebut separatis. Apapun. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan kemurtadan. Ini murni masalah hati dan saya. Hati saya yang terlalu tidak peduli lagi pada kata cinta itu sendiri. Sebab bagi saya, sejak tidak lagi percaya kata-kata Gibran dan Mario Teguh, cinta harusnya memberi sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan, bukan hanya sekedar berkorban. Memangnya saya altruis? Tidaklah. Biasa saja. Masih egois. Betul.

Hari ini sepertinya semua orang eforia teriak merdeka dan bilang cinta. Hanya setahun sekali ingat dulu kakek nenek berjuang melawan musuh yang sama. Bukankah teori negara dan bangsa terbentuk karena perasaan senasib? Mau senasib buruk senasib baik, asalkan senasib mereka akan sama-sama memperjuangkan hal yang sama. Enam puluh lima tahun lalu atau lebih mereka merasa direndahkan oleh satu bangsa asing. Tidak cuma satu. Selama ratusan tahun datang silih berganti. Bergiliran, kayak hidung belang menggilir primadona paling semok di rumah bordil.

Ratusan tahun lalu belum ada yang sekarang disebut bangsa Indonesia. Raja di Jawa mempertahankan secuil tanahnya. Raja dan Ratu daerah lain juga saling konsolidasi dan bahu membahu karena ternyata setelah diselidiki, musuh mereka masing-masing adalah segerombolan orang kulit putih yang punya meriam dan kapal canggih di masanya.

Sekarang, musuh bersama kita apa? Ketololan, tentu saja. Musuh kita orang-orang yang lebih punya banyak duit tapi mengunakan duitnya buat merasa lebih berkuasa dan superior dibanding yang kurang punya duit. Padahal duitnya juga hasil dari mungutin recehan milik orang-orang gak punya duit dengan mereka bilang sebagai pajak.

Sesekali dalam hanya sekali setahun kita bareng-bareng bilang aku cinta kamu, tapi hanya sebatas seremonial dan luapan emosi sesaat (atau lebih parah lagi, biar terkenal di twitter sebagai trending topic) rasanya, luapan cinta kita hanya akan terdengar seperti teriakan masal penduduk kota Gotham yang meminta tolong supaya Batman datang menyelamatkan pantat mereka. Tanpa mereka sadari, Batman sudah terlalu tua, tambun dan lamban, hingga saat ini dia pun berpikir untuk pensiun. Atau bunuh diri sekalian sambil nyium si Poison Ivy.

Ah, memang benar kitalah bangsa penggemar pesta. Asal ada tanggalan yang bisa diulang tiap tahun, pasti kita sibuk melakukan seremoni. Apapun. Mau lahiran, kematian, naik kelas, kawinan, sunatan, keterima PNS… Apapun, yang penting pesta. Seperti hari ini: Berpesta atas nama cinta.

Tapi kenapa seperti palsu? Kenapa terasa seperti makan malam memperingati ulang tahun jadian pacaran yang romantis dan penuh kibulan kalimat -yang katanya- penuh cinta, sementara tadi, sejam sebelumnya, kita tahu, masing-masing pasangan sibuk membuang bukti perselingkuhan mereka.

Kata mereka, cinta itu harus berkorban. Rela memberikan yang terbaik tanpa pamrih. Siapa mereka? Ya mereka, orang-orang yang sepertinya bisa melakukannya. Tapi saya bukan mereka.

Cinta saya masih penuh pamrih. Saya selalu memberikan apa yang kira-kira bisa saya dapatkan. Seperti kalau saya rela dipotong uang gaji pertahun berarti saya berharap jalanan akan makin memperlancar perjalanan, bukannya makin frustrasi karena harus sabar terpaksa mengantri di jalanan yang sempit dan padat. Seperti kalau saya rela setiap barang yang saya beli saya harus menyumbangkan sepuluh persen dari harganya untuk jaminan bahwa keponakan saya akan dapat pendidikan yang lebih bagus dari yang saya terima jaman dulu. Saya masih mengharapkan itu semua, seperti saya berharap gaji yang katanya mewakili saya tidaklah seratus kali gaji saya yang tiap bulan selalu ngos-ngosan buat disisihkan sedikit untuk biaya KPR.

Konon kata pepatah yang entah itu, sejarah selalu berulang. Sepertinya penjajah pun kembali datang, dengan nama yang lebih mudah dieja. Dengan warna kulit yang sama coklatnya, dan rambut sama ikalnya. Jadi kapan saya bisa tidak lagi distopia dengan cinta saya di masa depan?

Jawabannya kalau semua yang merasa patah hati seperti saya mulai sadar, bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan. Termasuk kalau penjajah itu adalah bapakmu sendiri.

Selamat ulang tahun, Indonesia. Kamu makin tua dan saya mulai tidak semangat mengganti popokmu. Seandainya kamu Benjamin Button yang makin lama makin segar. Ah seandainya saja saya tidak punya hati yang terlalu kerdil, jadi bisa dengan berseri-seri berkata: aku cinta kamu.

Comments
  1. Adhie Yusnadi says:

    Cerdas sekali, mantapppp… Saya suka sekali :-d

  2. ari says:

    jadi (merasa) dijajah bapakmu po rin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s