aku dulu selalu meremehkan ‘mudik’

Posted: 08/09/2010 in ramutu

Mudik, atau kalau kata Metro TV adalah Holiday Travel (what the…) selalu tidak punya arti buatku selama ini. Alasan pertama karena sejak kecil sampai umur pertengahan duapuluhan, aku selalu tinggal di kota yang tidak terlampau jauh dari Magelang, kota Harapan yang sekaligus jadi kampung halaman. Begitupun setelah menetap di Jakarta beberapa tahun ini, mudik selalu berasa kayak pulang weekend aja. Pesawat dan selalu pesawat. Itu pun selalu mepet di lebaran. Bahkan tahun kemarin, terkait kesalahan pesan tiket dengan jadwal lebaran yang maju satu hari, aku pulang ke rumah di hari lebaran pertama. Menyebalkan? Tidak juga. Karena lebaran selalu berasa seperti liburan long weekend. Hanya saja orang lain (kecuali aku) terlalu melebih-lebihkan dengan berbagai ritual yang selalu kutuduh sebagai pola budaya konsumerisme yang dijejalkan berpuluh-puluh tahun oleh industri masal bernama pusat perbelanjaan, fashion, kartu ucapan dan terutama industri jasa transportasi.

Tapi itu tahun lalu. Tahun ini, akhirnya ada kesempatan juga ngerasain sedikit nuansa mudik seperti orang normal lainnya. Hanya caranya saja. Untuk ritual seperti belanja, ngirim ucapan, dan lainnya, sepertinya aku masih belum tertarik.

Kebetulan seorang teman mengajak pulang bareng lewat jalan darat. Rutenya lewat jalur selatan yang saat itu kita pikir sebagai satu-satunya alternatif menghindari macet di jalur utara. Padahal tidak seperti lima atau sepuluh tahun lalu bahwa mudik selalu macet, dan kenyataan bahwa kami mudik lebih awal dari orang lain, maka… lagi-lagi mudik itu pun berasa traveling biasa saja. Hampir sama kayak ketika bikin perjalanan Jogja – Jakarta bawa mobil. Lagi-lagi… mudik tidak berasa mudik. Bedanya adalah, entah kebetulan biasa atau kebetulan yang bukan kebetulan, karena aku tidak berpikir untuk bawa CD mixtape khusus menemani traveling ini, apa pun kaset, CD atau radio yang tersedia harus dikompromikan untuk jadi satu-satunya pengisi kesunyian. *eeaaah… hiperbolis. tapi karena kami emang pendiam, jadi sepertinya musik ala kadarnya itulah jadi penolong kebetean di jalan*

Salah satu kaset kompromis itu adalah album the best Kla Project. Aku kurang hapal urutan track-nya, tapi di menit-menit awal mendengarkan lagu-lagu Kla itu, yang langsung menohok adalah ketika tiba-tiba terdengar intro salah satu lagu Kla yang selalu jadi soundtrack atau musik latar berbagai program TV untuk liputan di Jogja. Yep. I’m talking that particular song: Yogyakarta. Lagu legend untuk setiap apa pun mengenai Yogyakarta. I was like… (used to) berasa eneg setiap liat tayangan TV atau film atau feature tentang kota itu yang selalu memakai lagu Yogyakarta sebagai backsound. Kayak gak ada lagu lain aja. Dan, lagu itu punya cara tersendiri untuk membalas kenyinyiranku dengan secara pas terputar ketika aku sedang dalam perjalanan menuju ke kota yang selama sepuluh tahun menjadi tempat terkumpulnya semua yang baik, buruk, indah, nyengiti, dan juga tempat beragam memori menggunakannya sebagai salah satu setting lokasi dalam salah satu fase hidupku.

Entah apa yang bikin Katon menulis lirik lagu tersebut. Yang pasti, banyak orang mengaitkannya dengan kenangan percintaan dengan seseorang yang tinggal di Jogja (…pulang ke kotamu… bla bla) tapi kalau aku, lebih mengartikannya -mu itu adalah Jogja itu sendiri. Jogja bukan sekedar sebuah lokasi. Bukan sekedar satu wilayah yang berada di bagian selatan peta Pulau Jawa.

Aku sempat bilang ke temanku, “Jogja nih aneh ya. Dia bukan kampung halamanku, tapi entah kenapa walaupun tinggal di sana dengan status pendatang, aku lebih merasa Jogja adalah kampung halaman. Lebih dari Magelang. Bukannya mengecilkan arti Magelang, tapi sepertinya lebih menggetarkan hati ketika bilang ke orang-orang aku dari Jogja. Bukan karena Jogja lebih ramai dan lebih menawarkan banyak hal ketimbang Magelang. Aku bangga pada Magelang, tapi lebih cinta pada Jogja.”

Dan aku yakin hampir kebanyakan orang yang pernah tidur di atas tanah Jogja, meminum air tanahnya dan pernah tersapu angin kotanya yang kering tapi juga terkadang sangat berair itu, akan merasakan hal yang sama. Bahwa, kami akan punya dua kampung halaman. Satu kota kelahiran dan satu lagi adalah Jogja. Kota yang makin macet karena makin banyak orang datang tapi kemudian malas meninggalkannya. Yah, aku pernah juga malas pergi meninggalkan Jogja untuk kemudian migrasi ke kota busuk yang konon menawarkan banyak kesenangan tapi meminta imbalan yang tidak kalah besarnya.

OK, cukup soal sentimentalisme tentang Jogja  -walaupun setiap ngomongin Jogja, mau tidak mau pasti terjebak pada sentimentalitas ini.

Kembali lagi ke masalah traveling mudik. Sebagai pengalaman pertama, bisa jadi ini akan jadi pengalaman sentimentil tersendiri. Lagi-lagi selalu terjerembab dalam romantisme yang entah. Walaupun tidak separah yang dibayangkan, dan tidak se-hip kalau mudik menjelang hari H, rasanya perjalanan kemarin adalah perjalanan yang sangat OK. Semuanya serba pertama.

Pertama yang pertama: ini adalah perjalanan mudik pake mobil pertamaku. Yippiii…. Walaupun ini bukan kali pertama bikin perjalanan dari Jakarta ke Jogja, tapi ini pertama kali dalam rangka pulang lebaran. Dan pertama kalinya aku gak perlu gantian nyetir. *Antara seneng jadi penumpang dan juga agak kurang enak karena temanku nyetirnya sambil sedikit bosan :p. What the hell lah…. yang penting peranku sebagai kenek cukup meyakinkan. Tahu kan tugas kenek? Apalagi kalau bukan bukain tutup botol minuman, nyariin korek, bukain coklat, dan ngasih aba-aba… yak hajar!!!*

Pertama yang kedua: inilah kali pertama pergi jauh tidak menyiapkan musik pengiring perjalanan sesuai selera. Hasilnya adalah terkaget-kaget dengan musik yang sangat random dan tidak terduga. Ketidakterdugaan pertama adalah bagaimana bisa ada album Kla dengan lagu Yogyakartanya. Seperti bukan kebetulan. Tapi lebih seperti takdir bahwa ini adalah perjalanan yang terkesan seperti film fiksi lengkap dengan soundtrack yang pas. Ensemble Cast yang menyenangkan dan disutradarai Tuhan Yang Maha Romantis. Musik random walaupun di luar selera, terkadang mengagetkan juga rasanya. Lee Ritenour, kompilasi lagu rock klasik yang ternyata adalah cd karaoke dengan penyanyi palsu yang berusaha memiripkan suaranya dengan vokalis aslinya, dan yang paling woke adalah radio lokal yang sinyalnya kami temukan selama perjalanan. Benar-benar tak terduga dengan iklan yang sangat to the point: iklan gurah vagina.

Pertama ketiga adalah rute selatan baru pertama kali kulewati. Sayangnya kami kemalaman berangkat. Coba kalau tetap pada rencana awal, berangkat siang, kemungkinan besar traveling ini akan lebih memorable dengan pemandangan yang lebih terang dan hijau dibandingkan jalanan di malam hari. Lain kali akan kucoba. Mungkin jalan sendiri pun akan lebih menyenangkan. Roll down the window, hirup udara lokal yang tentu jauh lebih rendah kadar polusinya dibanding Bekasi dan Grogol.

Keseluruhan, mudik tahun ini adalah mudik spontan. Dari awal yang sebenarnya sudah pesan tiket pesawat dan harus dibatalkan demi merasakan mudik lewat darat (yah potongannya lumayan juga *flat*) terus banyak kejadian spontan di jalanan, termasuk tiba-tiba banting setir ke arah Glagah dan beberapa menit melihat laut. Oh it was awesome! Sayangnya tidak memungkinkan untuk nyebur sebentar ke lagunanya. Terlalu spontan kalau tiba-tiba masuk ke air. Sepertinya akan ribet juga kalau masuk ke air dan habisnya harus nyari-nyari kamar mandi untuk mandi. Ah repot. Makanya, cukup puas saja merasakan angin di pantai yang sepoi-sepoi bikin makin ngantuk.

Akhirnya, setelah kurang lebih 11 jam berada di jalanan, sampai juga kami di Sewon! Sewon… pernah jadi kampung tempat tinggal selama di Jogja. Di situ juga pernah ngalamin hampir keruntuhan rumah ketika gempa besar melanda Jogja. Di Sewon pula pernah terjadi salah satu fase hidup yang tidak kalah menyenangkan dan juga kadang pahit buat dikenang.

Tapi sejak traveling tanggal 4 – 5 September 2010 kemarin, aku sudah tidak berani lagi meremehkan ‘mudik’. Mudik bisa sangat membahagiakan dan memorable. Sepanjang kriteria tertentu terpenuhi:

A good companion, surprisingly random music, great places we found along the way (yes, i’m talking the beach we found on our halfway home) and most of it: expect the unexpected. sounds cheesy? well turned out it worked. very well indeed. And i really thank you for making it happened to me. Take care and happy holiday, dear…

the beach we found. and i’d like to quote a Sophie Zelmani’s song — “… if it wasn’t the ocean, wasn’t the breezes, wasn’t the white sand, there might be no need…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s