bipolar love affair

Posted: 13/09/2010 in Uncategorized

Apa kamu pernah mendengar satu hikayat tentang seekor anjing yang kena sial? Sialnya dia telah salah jatuh cinta pada seekor kucing. Klise sekali hidupnya. Terkungkung pada mitos anjing dan kucing yang tak pernah bisa hidup bersama. Sepertinya hidup terlanjur suka mengutuk dengan membebani mereka dengan kodrat perbedaan; dan lalu atas nama perbedaan itulah mereka dengan lantang meniupkan terumpet perang dan menancapkan umbul-umbul perkelahian.

Sedari lama, anjing telah mencuri baca kitab rahasia dunia yang sebenarnya tidak terlalu rahasia itu. Bahwa sampai kapan pun, sampai bah menggenangi bumi, kucing bukanlah makhluk yang bisa diajak jalan bersama. Lupakan segala cara perbaikan, sebab sejak masa pembuatan dunia, di hari keenam, diam-diam Dia menuliskan secara iseng beberapa hal yang tidak mungkin sama dan disatukan. Kucing dan anjing termasuk salah satu dari coretan iseng-Nya.

Tapi seperti kebanyakan hal di dunia ini, pasti ada anomali. Pasti ada yang berbelok dari pakem. Seperti yang terlampir sebagai catatan kecil yang mengiringi setiap keteraturan, hukum memastikan bahwa akan selalu terkandung ketidakjelasan di balik sifat kaku dan tertata rapih. Dan anjing sial ini terpaksa menerima keadaannya yang anomali itu: menyukai seekor kucing buduk dan berharap bisa berjalan bersama dan menciptakan keturunan kombinasi anjing dan kucing yang sangat musykil. Diam-diam, si anjing sial pun berharap selain kelainan preferensi, dia pun berhasil nasib hidupnya mengalami anomali, sehingga cita-cita mulianya bisa terlaksana.

Kamu pasti telah mendengar cerita tentang anjing sial itu. Tapi pernahkah kamu dengar cerita soal gambaran perasaan si anjing yang katanya sial karena menyimpang itu? Sungguh tidak enak. Aku saja yang sekali mendengarnya langsung merasa kesakitan. Sepertinya setiap kata-kata yang terlontar dari moncong hitam cokelatnya itu berhasil secara telak memindahkan kesakitannya ke dalam hatiku. Maka, saking sakitnya dan saking merasa itu juga sakitku, aku sampai tidak bisa menggambarkannya dengan jelas dan sebenar mungkin. Ini sudah terlampau subjektif. Terlanjur menjadi masalah personal juga bagiku. Kuharap, kalau frekuensi kita sejalur, kamu bisa mengerti perasanku, eh, perasaan anjing sial itu.

Baiklah, sebagai orang yang suka berasumsi secara semena-mena, aku simpulkan kamu sudah pernah dengar kisah pilu si anjing yang suka mati-matian pada kucing jelek itu. Dan kubayangkan juga kalau kamu pun bisa merasakan kepedihannya menderita ketidakselarasan (baca: ketidakseragaman) dengan hukum paten di dunia ini; sebab bagaimana pun kisah cinta terlarang antara si kaya dan si miskin masih merupakan produk budaya pembeda ciptaan kaum miskin yang tidak sudi cintanya dituduh hanya kedok mendapatkan harta melimpah. Itu masih biasa, tidak masuk kategori tidak normal. Tapi cinta si anjing merupakan anomali. Sebab demikian kata pemimpin kedua belah pihak -geng anjing dan geng kucing- bahwa telah ditakdirkan sampai kiamat, anjing dan kucing akan selalu menjadi sebuah kiasan untuk sesuatu yang tidak bisa bersekutu. Apalagi saling cinta. Tidak mungkin bahkan di dalam kehidupan selanjutnya.

Sekarang kalau semua sudah sepaham, mari kita lanjutkan. Aku akan bercerita tentang rencana si anjing mengubah nasibnya, dari sial menjadi anjing paling bahagia di seantero galaksi bimasakti ini. Tanpa merendahkan prinsip orang yang sangat suka dan bahagia dengan kesialannya, anjing ini merasa sial adalah tidak bahagia. Lalu dia pun bersyukur, paling tidak dalam hal mengartikan sial, reaksinya masih mirip dengan orang, eh, makhluk kebanyakan.

Pada malam kesebelas yang hujan lebat di bulan yang seharusnya kemarau dan kering, dia tegapkan langkah keempat kakinya menuju sebuah tempat rahasia. Tempat itu terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan, apalagi berlari. Terlalu melelahkan. Tapi demi sebuah cita-cita yang hampir mustahil, apalah arti kelelahan itu?

Dengan tanpa menghiraukan lecet-lecet di tungkainya dan jauhnya perjalanan menuju tempat rahasia itu, si anjing terus berlari. Tersiram hujan yang terasa seperti ribuan silet dan golok yang tercurah dari langit ketika menghunjam tubuhnya. Bahkan alam pun bersekutu untuk menentang rencananya, dan berusaha membuatnya gagal melaksanakan misi mustahil itu. Dalam hati, si anjing mendesis bangga, dia merasa seperti Ethan Hunt dalam film. Lengkap dengan topeng penyamaran. Yah, siapa tahu dibalik moncongnya, kalau topeng dibuka, akan terlihat seraut wajah tampan?

Sepanjang jalan menyibak hujan dan melewati ratusan hutan terlarang, anjing sempat bertemu beribu-ribu makhluk anomali semacam dirinya yang lebih memilih berdiam di hutan dan terasing tanpa usaha mengubah nasib. Mereka bilang sudah takdirnya, dan takdir sangat tabu untuk diubah. Sementara anjing selalu membaca banyak kesalahan yang bisa dibikin benar hanya dengan betul-betul mempercayainya itu benar. Jadi agak menyedihkan juga melihat banyak makhluk yang pura-pura ikhlas menerima keadaan padahal hanya kilah dari usaha yang sudah terpatahkan oleh kemauan yang menyurut (bisa dibaca mutung).

Dini hari keduapuluhtujuh, sampai juga anjing di tempat tujuannya. Dengan badan bau anyir oleh darah yang terus menetes dan kering dengan sendirinya kemudian terkoyak lagi dan mengucurkan kembali darah segar yang baru di atas darah kering sebelumnya. Tubuhnya sudah tak lagi berbentuk anjing yang sangat kokoh dan macho. Cenderung kurus dan kurang cairan akibat berhari-hari terus berlari. Kaki kiri belakangnya bahkan sudah lumpuh total. Terseret seret itu kaki mencoba mengikuti langkah ketiga kaki lainnya. Bulu tubuhnya yang biasa lembut dan tebal, sekarang nyaris botak. Antara rontok karena tekanan mental atau rontok tersangkut akar dan ranting pohon, sepertinya sudah susah dibedakan. Karena kedua hal itu benar sebagai penyebab kerontokan. Hei, Rudi, sepertinya salonmu akan bertambah pelanggan setelah ini.

Lima menit dia cuma berdiri mematung sambil menentramkan detak jantungnya yang berdegup sepuluh kali lipat daripada degup jantung pelari maraton setelah menyelesaikan larinya menempuh puluhan mil. Enam jam telah berlalu tanpa ada gerakan lain dari si anjing yang mematung di depan pintu sebuah bangunan rahasia. Matahari mulai tinggi, membakar kulitnya yang terkoyak-koyak. Sekarang makin perih lukanya, tapi anjing tetap mematung. Masih berusaha mengatur nafas dan mencoba mengingat apa yang harus dikatakan sesuai dengan misinya.

Samar-samar, terdengar suara dari dalam. Suara pelan yang terkesan rutin. Bunyi derit kasur karena seseorang atau sesuatu yang di atasnya mulai bangkit. Langkah kecil dan ringan menuju sisi ruangan lain. Lalu suara yang sangat anjing rindukan. Meeeooonggg…. Oh. Suara mengantuk itu sangat membuai hatinya. Suara itulah yang membuatnya nekad berlari ratusan mil.

Sepuluh menit. Lima belas menit. Senyap. Ah, semoga si kucing tidak memutuskan tidur lagi. Bukankah ini hari istimewa, seharusnya dia membuka pintu dan jendela, lalu membiarkan sinar matahari masuk menghangatkan rumahnya yang terlalu lembab ini.

Lalu ketika anjing sedang melamun tanpa sempat bersiap diri, pintu terbuka, membawakan pemandangan yang sekian tahun ingin dilihat oleh si anjing. Wajah manis berbulu putih dengan beberapa helai bulu kuning keemasan di kepala bagian samping kanan. Anjing tergagap. Kucing tersirap. Bagi kucing, ini bukan pemandangan pagi yang diharapkan ketika dia membuka pintu. Langit terlalu biru dan cuaca terlalu cerah untuk dirusakkan oleh sesosok anjing buluk penuh luka dan bau amis!

“Maaf lahir batin, Cing…”

Hanya itu yang terucap oleh si anjing. Padahal selama berbulan-bulan dia telah menyiapkan rangkaian kalimat yang semestinya akan mengubah nasibnya, dari seekor anjing yang telah salah jatuh cinta pada kucing menjadi calon ayah dari anak-anak keturunan campuran anjing-kucing.

Kucing merengut. Lebarannya telah dirusak oleh bau busuk nafas anjing yang telah berhari-hari tidak gosok gigi. Kucing diam saja. Berkacak pinggang hingga si anjing memutuskan pulang dan menganggap misinya gagal.

Gontai, anjing terpikir bagaimana dia bisa begitu lancar dan jujur ngobrol dengan ayahnya di depan pusaranya, tapi kenapa demi tujuan besarnya dia bahkan hanya mengucapkan selamat lebaran? Bahkan dia pun tidak merayakan hari raya itu.

Apakah benar, hanya di depan nisan saja kita bisa bicara jujur? Lalu kapan kamu mati, sayang?

Comments
  1. Mau komen tapi bingung komen apa. Mantap mbak ceritanya, gw banget :-d

  2. Belum berujung, mbak… Tapi sepertinya bakal begitu, happy ending yang sedih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s