A Journey To The Home of The Legend: Mak Erot.

Posted: 09/12/2010 in agakserius

Judulnya cukup menggiurkan, bukan? Padahal ini cerita tidak ada hubungannya dengan Mak Erot. Secara langsung tidak ada, kecuali kalau mau dihubungkan tentu saja ada. Paling tidak, di satu desa yang kulewati ada dua rumah bertuliskan Mak Erot: satu Mak Erot ‘asli’ dan satunya KW3. Terus sebelum sampai rumah Mak Erot -yang sekarang dipakai praktek oleh anaknya- ada pangkalan ojeg bertuliskan kira-kira: siap mengantarkan ke Mak Erot. (padahal tanpa jasa ojeg ini pun, kalau mau cari sendiri, gampang banget. Ada tulisannya)

Sejak tinggal di Jakarta, inilah kali pertama aku menjelajah sampai ujung selatan Jawa Barat. Dalam artian benar-benar berniat menuju ke selatan, bukan sekedar lewat pas pulang ke Magelang atau Jogja lewat jalur selatan. Inilah Sukabumi, yang terkenal sebagai daerah pengirim TKW terbesar di seluruh Indonesia. Konon katanya begitu.

Sebenarnya, ngapain sih saya mau-maunya ke Sukabumi? Nyari Mak Erot? Ngapain….? Saya pun bingung kok sampai situ ya kemarin. Ahaaaay…. berlebihan. Tentu saja saya semangat pergi ke Sukabumi. Sudah sebulan lewat tidak pernah kena air laut. Sebelumnya di Flores yang aduhai itu, saya cuma nyebrang doang. Sama sekali gak ngerasain ngos ngosan renang. Rencana saya pas diajak teman ke Sukabumi, yang terbayang di benak saya adalah: woooh… di laut selatan pas malam suro? Mistis sekali. Perlu sedia kembang tujuh rupa dan alasan untuk menjadi seorang pagan? Tidak perlu. Menjadi pagan cukup dengan niat kok. (tolong keplak saya)

Jam setengah dua malam, mulailah perjalanan dari Tebet ke Sukabumi, tepatnya di Pelabuhan Ratu. Sejak di Tol Jagorawi, saya sudah sangat semangat sekali. Berdasarkan perkiraan, nanti sekitar jam lima atau setengah enam kami sudah akan sampai di laut. Yaaaay… sunrise. Jarang-jarang saya dapat sunrise. Tahukan alasannya kenapa?

Ohya, sebelum saya teruskan, sebaiknya saya bikin disclaimer dulu:

“Tulisan ini sebaiknya jangan dibaca oleh anak dibawah 18 tahun dan yang tidak memiliki kemampuan menyetir yang cukup bagus dan fokus yang sangat baik. Apa yang akan ditulis banyak mengandung material kurang layak, kasar dan secara eksplisit membicarakan zat adiktif”

Baik, diteruskan lagi. Aku dan temanku memilih rute lewat Cikibadak dan Cikidang untuk sampai di Pelabuhan Ratu. Kata temanku kalau lewat kota Sukabumi bisa dibilang memutar. Wah… tentu saja saya manggut-manggut saja, wong ndak tahu blas. Dan GPS dari HP tentu tidak bisa diandalkan di daerah pegunungan seperti itu. Hasilnya tentu saja I was a lousy navigator. Salam damai pak supir, situ ok deh kalau memaafkan kegagapan saya dalam memberitahu ada lubang besar di sisi kiri dan cerita soal film Shutter padahal kita lagi dimana saat itu? Oh ya.. di tengah hutan yang gelap banget, berkabut dan situ agak giting ya :D   –tenang walaupun kamu dan tokoh dalam film itu sama-sama fotografer, si hantu di Shutter gak doyan fotografer balapan kok. Soalnya kalau harus nangkring di pundakmu terus-terusan dia sendiri yang akan kepanasan di sirkuit.

Jalanan kalau lewat Cikidang sebenarnya cukup mengerikan. Jalan sempit hanya cukup untuk dua mobil berpapasan, berkelok kelok tajam dan naik turun. Tapi tetap lebih seram jalanan dari Wonosari ke Pacitan yang kalau habis tanjakan curam kita tidak pernah tahu apakah setelah itu jalanan akan tetap lurus atau berbelok kanan/kiri. Jadi setiap sampai puncak tanjakan harus ngerem dan deg-degan biar gak salah belok dan masuk jurang. Yah begitulah Wonosari dan Wonogiri.

Pas sampai di daerah yang sepi tanpa satu pun rumah penduduk, yang terlihat hanya garis marka putus-putus putih di depan, sedang kalau noleh ke belakang, seperti melihat ke dalam sumur yang dalam banget. Gelap sekali. Bulan mati saat kami berkendara. Temanku diam, sok berkonsentrasi di jalanan. Padahal mungkin saja dia ngelamun tapi aku nggak ngeh. Dan yang terpikir olehku saat itu adalah… Bukan hantu tiba-tiba nyebrang kayak cerita-cerita horor. Tapi ini hampir mirip video klipnya Radiohead, Karma Police. Dan tentunya secuil scene traveling dari film horor ketika si korban sedang dikejar-kejar sesosok makhluk tidak jelas dalam serial Twilight Zone. Musiknya bukan John Mayer, tapi dua nada monoton yang diulang-ulang dengan tempo medium up yang cenderung mendebarkan!

Singkatnya setelah obrolan kurang penting di mobil biar tidak terasa terlalu ngeri, sampailah kita di Platu, yang rasanya siapapun yang menyingkatnya jadi Platu di papan penunjuk arah, adalah seseorang yang sangat terobsesi dengan Plato.

Nah, pas sampai di pos penarik duit masuk (ah aku nggak tau kemana larinya duit retribusi itu) kita disuruh bayar empat belas ribu. Mahal. Seharusnya gratislah… emang situ yang membangun pantai? Ndak kan??? Dan yang menyebalkan adalah basa basi si bapak penarik duit yang sangat basi itu: “Berdua saja Pak?”

Apa? Pak???? Sini saya keplak dulu. Tentu saja kami tidak berdua. Itu satu lagi teman saya di dalam tas. Terpotong-potong. Sayangnya satu jarinya terselip entah di mana pas di-kargo-kan dalam tas ransel!

Pagi sekali sampai di Platu. Belum ada warung pinggir pantai yang buka, padahal kalau saja mereka sudah buka, tentu mereka tidak akan menolak membuatkan kopi buat kami toh? Ah apa daya, terpaksa menikmati sunrise di Karang Hawu dari dalam mobil. Sambil ngecengin (dibaca: mengolok. bukan yang memperhatikan sambil menarik perhatian) anak-anak ABG yang gayanya pengen jogging tapi turned out cuma jalan mindik-mindik sambil ngegosip.

Di pantai Karang Hawu, sedang dibangun huruf huruf kapital membentuk tulisan nama pantai tersebut. Eaaah… biar kayak Losari kali ya…

Cukup sebentar saja di Karang Hawu. Teman saya sudah gatel pengen ngebasahi board-nya. Sebetulnya kalau saya sudah pengen nyari hotel dulu… Agak-agak mules peyuuuuttt… Aaaaaah ngalah ja. Daripada disuruh pulang naik bis?

Oya, kalau sampai di sini anda-anda para pembaca merasa penasaran dengan lansekap yang saya ceritakan di sini, silakan mrongos. Karena walaupun ada beberapa gambar yang saya potret, tapi itu bukan kamera saya. Kamera saya sudah almarhumah. Lensanya patah ketimpa tripot. Jadi, walaupun no picture may be considered as hoax, this journey definitely is not a hoax. Sumpah, ini beneran terjadi kok. Plaaakkkk…. Ngaku kamu! Summmm… Plakkkkk!!! Dan Plak Plak Plaaaak. Aaaah.. kayak adegan di film mafia aja.

Akhirnya. Di warung di pinggiran Sunset Point, saya dapat kopi di jam setengah tujuhan. Pemandangan di depan saya adalah: laut selatan yang mistis itu. Anak-anak SD yang memanfaatkan liburnya dengan bermain body board di pinggiran dan dua atau tiga surfer lagi iseng paddling. Di mana teman saya? Ya tentunya di laut. Cengar cengir kehabisan tenaga melawan ombak cuma biar bisa sampai tengah dan dapat satu gelombang buat dinaiki.

Tahu tidak, aku sering berpikir bahwa siapapun yang menciptakan permainan surfing itu begitu terobsesi dengan cerita Jesus yang bisa jalan di atas air. Oh ayolah… kenapa manusia begitu tergila-gila untuk bisa terbang pakai pesawat, begitu pengen jalan-jalan di dasar laut dengan bantuan aqualung? Kenapa juga sangat ingin menandak-nandakkan papannya di atas ombak untuk bisa meluncur di atas air sepanjang lima sampai sepuluh meter?

Saya bukan seorang penikmat olah raga surfing. Bukan juga yang into dengan filosofi di dalamnya (if there’s any). Tapi setelah beberapa hari memperhatikan anak-anak Cimaja giat banget buat hunting ombak dan kemudian berusaha bisa selaras dengan gempurannya yang kadang menabrak karang; saya agak bisa paham. Selain ini adalah olahraga yang adiktif dan digilai oleh semua adrenaline addicts, surf could be more than just a game.

Tidak peduli mau seberapa pandainya berenang, seberapa kuat konsennya, seberapa hebat staminanya untuk bisa berada di air berjam-jam tanpa masuk angin (mungkin masuk air yang benar) dan seberapa panjang orang itu bisa berjalan di atas air, alam lewat gelombang laut akan mengingatkan bahwa bagaimana pun manusia kodratnya akan bisa kalah melawan gravitasi. Kamu bisa terjatuh dan tenggelam kegulung ombak. Kulitmu bisa meruam merah ketika dihempas begitu keras ke permukaan air. Tulangmu bisa patah menabrak karang. Dan dagingmu bisa robek ketika ketabrak papan peselancar lainnya. Jadi, surfing adalah sangat manusiawi sekali. Bagaimana manusia berusaha memanipulasi kekurangannya ‘hanya’ untuk sesekali bisa merasakan hal di luar kodratnya yang makhluk daratan.

Pantai yang saya tongkrongin sekarang dikasih nama Sunset Point. Kata orang-orang karena di poin inilah kalau cuaca cerah, kita bisa mendapatkan sunset yang cantik. Sayang sekali, ketika di sana, setiap hari hujan. Seharian malah, dari pagi sampai malam. Sedikit kecewa. Tapi tidak mungkin saya kecewa pada alam. Toh ketika saya mencoba bicara pada awan lewat lautnya yang gemetar di satu suro sore itu, dia memperbolehkanku pulang dalam keadaan cuaca yang lebih bersahabat. Tidak hujan sama sekali. Ya. Kan sudah dibilang menjadi pagan tidak perlu sesajen dan tumbal. Cukup dengan niatan, bicara dari hati ke hati (alam punya hati kok. percaya deh) dan utarakan apa maumu. Contohnya, saat itu di hari terakhir berada di pesisiran Sukabumi, seharian dari pagi sampai sore hujan turun terus-menerus. Lautnya cokelat sekali oleh air sungai yang meluap-luap mengirimkan pasokan air melebihi jumlah biasanya. Aku cuma ngomong gini (itu pun sambil merokok santai di tepian laut):

“Dear Alam… saya mau pulang ke hotel buat mandi terus malam balik ke Jakarta lagi. Sudah sore dan teman saya sudah mengeluh kedinginan dan berasa bau. Kalau tidak pulang sekarang bisa dipastikan dia akan masuk angin, dan nanti yang sial saya, sebab saya kemungkinan besar yang harus nyetir pulang. Nah, kalau saya yang nyetir, bisa jadi malah sial keduanya. Kami bisa masuk jurang. Saya harap hujannya reda dulu ya, biar kami bisa ke mobil. Kalau deras begini, kamera bisa basah. Nanti rusak, nanti susah motret-motret dong…”

Voila. Tidak sampai sebatang rokok habis, tiba-tiba hujan yang tadinya deras sekali, berangsur reda. Terang. See… tidak perlu sesajen dan panggil pawang. Cukup bicara dari hati ke hati.

Di Platu kami menginap di cottage-nya Leo, seorang warga negara Jerman yang sudah dua puluh tiga tahun lebih tinggal di Indonesia. Punya istri orang Solo, anak tiga. Anak bungsunya yang sekolah di Jakarta punya cerita tersendiri. Katanya Leo barusan dipanggil guru sekolah anaknya karena si anak bungsu ini playboy abis. Dia sering kedapatan mencium cewek-cewek di sekolahnya di dekat WC siswa. Leo sih bersikukuh bahwa that’s pretty normal. Ya, dan aku pun setuju. Karena anaknya laki, wajar dia cium cewek. It’s better than he’s kissing all the boy, right? Leo tertawa ngakak. Aku gak tahu deh dia ngakak karena memang lucu, atau sepuluh botol birnya yang ketawa. He was so high… that high so he kept asking where we come from. Tiga kali dia tanya asalku dari mana. Kerjaku apa. Dan dia gak tahu kalau setiap menjawabnya aku selalu punya jawaban yang berbeda-beda. Pertama aku bilang dari Filipina. Percaya aja tuh dia. Ah aku boong ding. Aku selalu jawab jujur pertanyaannya. Harusnya aku boong saat itu. Ah menyesal.

Harga kamar di cottage-nya Leo cukup murah, hanya sembilan puluh dua ribu per malam. Ada air panas. Meskipun kamar mandinya dipakai bersama tamu lain, dan kalau malam airnya dimatiin. Jadi ada kejadian aku harus nyuci kaki di kolam renang dan bingung mau pipis gimana. Pssst… bahkan temanku nyuci papannya di kolam hahahaha. Maaf buat siapa pun yang berenang setelah itu.

Salah satu hal yang menarik seputar bepergian dan menginap di sebuah penginapan kecil terutama yang bentuknya secara emosional ‘dekat’ satu sama lain, di hotel itu beberapa kali berkenalan dan ngobrol akrab dengan tamu lain. Seperti di hari pertama, pas temanku meninggalkanku seorang diri di kamar dan dia surfing sendirian. Padahal saat itu hujan dan aku mulai bingung gimana caranya menghabiskan waktu. Kepikiran juga buat berenang hujan-hujanan. Oya, saat itu aku belum cuci kaki di kolam, jadi cuek aja renang. Nah pas mau berenang, aku ketemu sepasang backpacker dari Inggris. Mereka ternyata menempati kamar di sebelah kamarku. Cuma sehari mereka di sini. Besoknya mereka mau ke Jogja. Sempat menanyakan berapa lama untuk sampai Jogja? Aku boong aja sekitar 12 jam. Haha… salahnya nanya ke aku. Mana kutahu. Pas kubilang ke temanku dia ngakak. Gak sampai segitulah…. Ya ya ya… namanya juga ngarang.

Orang Inggris itu namanya Stacy dan Nathan. Si Stacy tipikal kayak yang suka ada di film-film Inggris: cerewet, ramah dan berseri-seri. Kalau Nathan hampir mirip gaya sok cool-nya keluarga Gallagher. Hah. Rada kurang bermutu si Nathan itu. Atau mungkin memang seperti itu ya, kalau satunya cerewet satunya pendiem? Tapi malamnya, kedengaran juga mereka heboh ngobrol sampai jam sebelasan. Ternyata, tidak se-cool itu ah si Nathan ini.

Tamu kedua yang kukenal adalah orang Jerman. Bilangnya mau dua minggu di sini. Natal mau pulang sebab bapaknya sudah tua, hampir delapan puluh tahun. Aiiiih itu bapak atau kakek om? Ketahuan deh, kira-kira umurnya sebapakku :-p

Yang orang Jerman ini agak kurang simpatik. Gimana mau simpati, pertama datang ke hotel dia langsung mandi. Abis mandi di kamar mandi bersama itu, dia keluar balik lagi ke kamarnya cuma pake handuk. Hello…. eyke kan cewek yang suka risih liat cowok handukan doang. Kecuali…

Banyak cerita di Platu dan sekitarnya. Mulai dari upaya pengejaran ombak dari pagi sampai sore. Mulai nyusur dari Loji, lalu di sekitar PLTU, terus ke Queen Ocean, sampai ke Sawarna, yang ternyata sudah masuk propinsi Banten. Ah… susah juga mencari ombak itu. Harus menempuh tiga propinsi: DKI, Jawa Barat dan Banten. Ayo dikit lagi kita naik mobil bisa sampai Ujung Kulon kali…

Pantai Sawarna bagus juga pemandangannya: pasirnya berwarna krem karena banyak karang pecah di situ, garis pantainya cukup panjang dengan ujung kanannya kokoh berdiri bukit karang. Tapi hati-hati melangkah, di beberapa tempat banyak karang yang tajam-tajam. Di dekat situ ada pantai yang disebut Tanjung Layar, letaknya yang menjorok ke darat hingga air laut yang masuk akan tertampung di kolam-kolamnya. Bisa buat berendam kalau air pasang, kata Pak Mumun, seorang surfer senior yang sekarang membuka kelas surfing dan penyewaan papan di Sunset Point. Sayang tidak sempat ke sana saat itu.

Di Sawarna, temanku mengajak dua teman lokalnya yang masih kecil-kecil tapi jagoan. Bahkan si Jimmy yang barusan pinggangnya robek kena papan, masih bisa mendapatkan beberapa ombak yang cukup tinggi dan panjang. Sialnya, karena cuacanya memang kurang bagus, dia sempat terhempas dan satu jahitannya robek terpaksa. Nyengir-nyengir juga dia. Tapi begitu ada cewek, langsung berlagak dan menyiutin. Uh ABG.

Sebab kurang begitu ok menurut Bina, teman Jimmy, diputuskan pengejaran ombak selanjutnya adalah ke pantai yang dekat hotel saja, di sekitaran Cimaja atau Sunset Point katanya. Tapi ternyata belum sampai Sunset Point, Bina minta berhenti di satu pantai yang aku nggak tahu namanya. Pokoknya di situ ada satu warung punya Mamahnya Fredi. Hahaha… penunjuk yang kurang valid. Tapi Fredi sih agak terkenal. Terutama di kalangan semua turis asing. Karena kadang kalau turis turis itu minta guide, beberapa ada yang menolak karena tidak bisa bahasanya. Sedang Fredi, mau turis Jepang, turis Jerman, Aussie, dia bisa temani semuanya. Sebab Fredi yang bisu tuli ini, punya kemampuan komunikasi yang lebih handal dibandingkan siapapun yang bisa berbahasa asing. Bahkan dia lebih komunikatif dariku yang selalu merasa kege-eran bisa merangkai kalimat bagus. Padahal juga gak bagus-bagus amat. Fredi bikin saya malu sama diri saya sendiri.

Cerita Bina, dulu pas bayi Fredi pernah sakit panas tinggi. Apa mungkin dari situ penyakit Fredi? Mungkin saja. Dari ibunya, cerita bergulir tentang satu kenangan si ibu yang berasal Bone dan keturunan pelaut Bugis. Perempuan umur 34 tahun ini ternyata sudah menikah sejak dua puluh tahun lalu. Kenapa kawin muda, tanyaku. Katanya dulu ibunya malu sebab semua perempuan di pesisir Sukabumi ini umur 13 – 14 tahun sudah disuruh kawin. Padahal, kalau orang Bugis, nikahnya ya sudah dewasa gitu teh, katanya. Berarti teman-teman kecil ibu dulu banyak yang masih baru menikah dong bu? Iya…

Sebenarnya saya berusaha keras untuk tidak terjebak stereotip orang desa sini yaitu kecil-kecil jadi manten atau kalau gak mereka akan berbondong-bondong jadi TKW. Tapi yah… memang paling tidak ada dua cerita perempuan di Cisolok dan sekitarnya yang saya temukan bahwa mereka rata-rata menikah di umur belia sekali. Satu mamahnya Fredi, satu lagi pacarnya Bina yang baru menginjak empat belas tahun tapi sudah ngotot pengen kawin. Aduh… kenapa sih orang-orang ini? Apa mereka tidak ingin merasakan nikmatnya jadi dewasa tanggung yang keliaran nyari pacar sana sini sebelum akhirnya terjebak ngurus ompol bayi? Embuh ya. Cuman rasanya kalau mau dilihat dari segi kesehatan, perempuan di bawah dua puluh tahun yang secara seksual aktif akan rentan sekali dengan penyakit kanker leher rahim. Jadi, Bu Linda Gumelar, apa tanggapan ibu? Kalau ibu sudah pernah melihat kerajinan tangan ibu-ibu Pulau Rinca, apa ibu ada rencana piknik ke pantai lagi? Nih, Pelabuhan Ratu dan sekitarnya menanti kedatangan ibu. Tentu dengan program pencerahan buat para perempuan yah… Saya dukung program peduli kanker yang ibu usahakan. Beneran.

Ok cukup soal orang-orang itu, walaupun sebenarnya saya masih menyimpan pertanyaan yang tidak tega saya sampaikan: Apakah para lelaki di sini juga rajin pergi urut ke Mak Erot?

Sekarang mari kita pesta ikan bakar. Mungkin sudah terlalu malam pas saya pergi ke pasar ikan di dekat pelabuhan makanya sudah tidak ada banyak pilihan. Ikannya kebanyakan kurang menarik selera, kecuali tuna dan tongkol. Mereka masih satu keluarga kan ya? Lainnya cumi. Ah cumi.. susah bakarnya. Saya tanya teman saya yang sering alergi tongkol, gimana mau cari yang lain? Dia bilang tuna aja gak papa. Nanti gatel? Nanti jontor gimana? Nggak…. asal gak banyak, katanya. Ya sudah. Akhirnya saya belilah tuna dua kilo dengan harga 30 ribu. Kemahalan gak ya? Soalnya waktu di pacitan, saya dapat tuna juga segede itu dikasih harga dua puluh ribu saja. Yah, maklum saya tipe pembeli gak bisa nawar. Kalau perlu pedagang itu aja deh yang nawar harga saya. Eh.

Dan benar saja. Baru separuh nasi, temanku sudah ngeluh agak pusing dan nanya apakah mukanya mulai merah. Ah mukamu sama saja di mataku: cukup legam. Tentunya saya gak berani ngomong gitu, daripada saya dilarung ke laut? Mana pas malam itu pas lagi malam satu Suro pula. Cuma sedikit berbeda dengan pantai selatan di Yogya yang penuh orang iseng main di pantai malam-malam, di Pelabuhan Ratu, orang semedi di pantai cuma pas tengah malam. Setelah kami pulang ke hotel, kata mamahnya Fredi, tau-tau pantai mulai ramai orang mandi dan semedi buat nyari ilmu. Wah, sial. Padahal saya pengen ikutan tuh. Tapi yah, menjadi pagan cukup dengan niat pun tak apa.

Di malam terakhir itu saya sempat menanyakan ke teman saya, kenapa dia tau-tau ngajakin saya kemari.

“Kan aku pernah janji ngajakin kamu ke sini (oh iya.. dulu banget pernah bilang itu ya) lagian buat ngasih pandangan aja ke kamu tentang tempat ini.”

Ya. Dan tentunya saya dapat banyak hal tentang sekilas orang-orang di pesisir Sukabumi ini. Termasuk saya dapat ide cemerlang bikin salah satu episode buat feature saya, ngambil lokasi di sini. Tapi kenapa kata teman saya sebaiknya sama anak lokalnya aja, jangan ada bulenya? Wah… gimana ya, bagaimana pun kalau ada tayangan dengan muka bule satu atau dua yang bisa ngomong selamat pagi dan bagus, akan bikin rating naik. Ah kamu… dasar, tidak bisa meraba juga tujuan terselubungku demi bonus tahunan.

Akhirnya perjalanan di kampungnya Mak Erot harus selesai. Dan bertolak belakang dengan berangkatnya, kemarin malam pas pulang, ketika mulai memasuki Tol Dalam Kota, rasanya males banget. Uh.. Jakarta lagi. Selamat datang di realita. Tapi hell yeah, kata si Petrik, kerjalah yang bikin kita bisa jalan-jalan bukan? Baiklah. Besok saya akan bekerja bagai kuda lalu jalan-jalan bagai raja minyak!

Anyhow that was awesome, sebuah journey yang dihiasi chiki palsu, hampir nabrak dua kali dan ketegangan tingkat tinggi akibat substance abuse di jalanan pegunungan yang penuh jurang, Armin van Buuren dan BEP yang gak banget itu (armin-nya sih ok banget), terus tragedi salad tumpah di Bogor dan muka lesu para suporter bola yang sedih karena timnas kalah.

Selanjutnya saya belum tahu akan pergi kemana lagi. Yang pasti, Irlandia dan Spanyol adalah tujuan terbesar. Eh, Karibia pun menarik. Bisa trekking di hutan yang jadi lokasi shooting A Perfect Getaway. Oh yea, mine was an imperfect journey though, but somehow we -well, me particularly- made it thru. It was pretty good. Definitely. Maybe. Oh…

Comments
  1. ari says:

    likes this story a lot! ;))
    nice piece!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s