The Pekok Club

Posted: 14/12/2010 in ramutu

Pernah merasa satu atau dua kali bahwa anda pekok (baca: bodoh)? Saya kok merasa tiap hari saya pekok ya? Tiap kali mikir betapa pekoknya saya, saat itu juga saya berlaku sangat pekok. Lah wong pekok kok dipikirin. Apa ndak begitu pekoknya itu? Tapi sepekok-pekoknya orang pekok mana pun, toh saya berpikiran (secara pekok tentunya) bahwa kepekokan saya ini adalah semacam usaha dipekok-pekokkan biar sahih untuk bisa mendirikan kelompok pekok. Paham to? Baiklah kalau kamu cukup pekok, saya terangkan.

Sebelumnya saya bertanya. Secara pekoklah, masa secara pinter. Kalau orang pinter nanya, bisa dipastikan dia cuma ngetes, ndak beneran nanya. Karena sekali lagi saya pekok, saya benar-benar dan selugu-lugunya nanya: kenapa kata pertama dalam Al Quran menyuruh orang baca? Padahal jelas-jelas jaman itu ndak ada orang yang bisa baca (baca Al Quran). Kalau itung-itungan nominal harga domba dan permadani yang terjual pasti sudah fasih sekali.

Lalu benar saja, karena tidak ada yang sudah pintar membaca, orang-orang pekok pun dipaksa mencari cara untuk bisa baca. Seperti belajar menghapal simbol yang berarti sesuatu. Menghapalkannya untuk kemudian disambung dan dicampur dengan simbol lain yang lantas dikasih nama huruf hingga membentuk kata, lalu kalimat, lantas paragraf, kemudian bab, lanjut lagi menjadi buku atau kitab atau… payroll (eh ini sih yang dinanti setiap akhir bulan. Melebihi penantian akan ajakan liburan. Eh.)

Apa maksud dari menganggap bahwa orang pekok yang tidak bisa baca adalah orang pintar yang bisa baca? Kenapa wahyu pertama itu tidak secara terus terang menyuruh orang untuk belajar baca? Kenapa kata belajarnya tidak dimasukkan dalam ayat itu? Apa untungnya menganggap semua orang sudah bisa membaca tulisan berarti ‘baca’ itu? Kenapa harus berbelit-belit? Biar bisa ‘menampar’ orang kuminter bahwa sebenarnya semua orang pekok?

Saya bayangkan seperti ini:

Saya buta huruf. Tiba-tiba disodori sebuah simbol yang saya tidak tahu musti diapakan. Apakah harus dicontek, ditaruh dibawah kertas minyak dan kemudian dibawah lampu yang terang saya pun mengikuti pola garis hingga bisa ngeblat (iki boso Indonesianya apa ya?) hingga bisa ‘menggambar’ simbol itu sama persis seperti memfoto-kopinya? Sampai di situ karena saya pekok dan tidak bisa baca, tentu saya kira simbol itu adalah gambar, bukan tulisan.

Lama-lama saya pandangi gambar itu. Dijungkir-balik. Diputar kanan dan kiri. Ditempel di dinding. Dipandangi dari jarak 10 meter, lima meter, dua meter hingga dua inci, tetap saya tidak paham. Tapi karena dasarnya otak saya pekok tapi memiliki daya penasaran yang tumpuk undung, akhirnya pelan-pelan saya tahu artinya.

Itulah gambar yang menyimbolkan kata yang berarti baca. Tapi sampai di situ saya masih pekok ternyata.

Sebab yang dimaksud baca adalah membaca gejala, bukan sekedar membaca alfabet yang diatur-atur hingga membentuk kata dan kalimat yang berarti sesuatu. Gejala bisa berupa apa saja. Bisa sekedar panas dan pusing yang sangat multi tafsir. Sebab kata hampir semua teman-teman yang sekarang jadi dokter, semua penyakit kebanyakan memberikan sinyal peringatan berupa pusing dan suhu badan meninggi.

Wah ketahuan makin pekoknya saya. Gimana saya tahu cara mengartikan sebuah gejala kalau terjadi satu gejala saja bisa berarti sangat luas. Seluas hati mama (ooooh).

Tapi sekali lagi karena saya pekok tidak seperti dukun yang bahkan tanpa perlu memegang dan membaca garis tangan saya bisa langsung tahu karakter terjahat saya, kepekokan ini menuntut saya untuk lebih lanjut mencari cara untuk lebih tahu. Syukur-syukur bisa mengikis sedikit ketebalan pekok saya yang seperti jigong gigi yang tidak tidak digosok pake odol selama sebulan. –bayangkan baunya seperti apa. Eh, setebal apa itu jigong ding. Sori, pekok bebas dong, boleh salah.

Baiklah, kata otak nan pekok ini. Kalau panas dan pusing bisa berarti macam-macam, mari kita baca dan lihat kejadian lain. Apakah perut saya berasa aneh? Seperti banyak gas yang memenuhi lambung dan memicu produksi asam berlebihan hingga timbul perasaan dan kebutuhan untuk memuntahkan cairan asam berwarna kuning agak hijau dan sedikit cyan itu supaya perut saya terasa agak mendingan?

Lalu apakah mata saya terasa berkeredut? Bibir terasa lebih tebal dari biasanya, lidah kelu dan pipi kok seperti kebas hingga mau senyum aja susah apalagi ngomel marah? Jikalau semua benar, maka dengan pekoknya saya akan berkesimpulan: saya masuk angin. Padahal salah. saya sedang keracunan laktosa basi.

Sebab saya pekok, jadi kesimpulan pun boleh pekok. Karena aku pekok maka aku ada, eh, maka aku keracunan. — gimana gak pekok, susu basi saya minum?

Sekian.

 

Ps. I Love You, my dear Pekok. Dan akan semakin cinta kalau situ mau dengan pekoknya bergabung dengan saya membuat satu sekte pekok yang tiap minggu bikin ritual pekok. Apapun kepekokan yang akan dilakukan.

Comments
  1. panggih says:

    dengan selesainya saya membaca postingan ini,terpujilah saya karena saya sudah masuk dalam golongan kaum pekok.mau2nya baca tulisan pekok bgini,udah gitu komen lagi.bener2 dah.legally pekok.
    jadi..hari apa jadwal ritualnya?
    *lewat inbox ato DM aj gapapa*

    • paket akselerasi menjadi sarjana pekok adalah mencari kepekokan yang paling sahih lalu kemudian dengan seksama dan konsisten melakukannya. kitab hanya panduan dasar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s