maps, room service, lonely airports and the bag full of shite

Posted: 16/12/2010 in ramutu

serius, kita bukan dua orang anak band yang selalu kepentok jadwal tour dan terjebak dalam bis kita masing-masing. kamu juga bukan seorang pengembara seperti gambaran pendekar dalam satu novel silat kayak api di bukit menoreh atau cerita kung fu-nya kho ping hoo, yang selalu berjalan entah dengan tujuan apa selain cuma dibilangin kalau tugasmu di dunia adalah menegakkan keadilan sambil membabat-babatkan pedang ke orang jahat.

aku pun bukan seorang pilot dengan jam terbang lebih banyak dibandingkan jam mendarat. ada kalanya memang lebih banyak ngecengin flight attendant laki yang ranum ranum dan wangi di sudut satu lounge maskapai yang selalu sepi karena -kamu pun paham- orang lebih suka datang mepet jam take off daripada menghabiskan waktu di bandara.

tapi serius, kita bukan itu semua. tapi lebih serius lagi, kita terlampau sering menghabiskan waktu di bandara paling kesepian ini dengan apapun tahi dalam tas kita.

aku pernah sejam dua jam terduduk lemas di sofamu. rumah baru, katamu saat itu. ah, sama berantakannya dengan punyaku. aku berani taruhan, setiap kamu bongkar tas penuh coretan destinasi dan pajak bandara itu, perasaanmu sama saja dengan semua orang yang lebih banyak membukakan pintu hotel untuk layanan kamar daripada pintu rumahmu sendiri untuk -barangkali- anak tetangga yang ingin menumpang main play station bukan?

jujur saja, ada satu ketika kamu sangat berharap tidak perlu pulang ke rumah yang butuh dibersihkan ketika akhirnya kamu ‘selesai’. ada satu waktu kamu sangat ingin tidak pernah harus membongkar tas dan kemudian di hari berikutnya harus memasukkan lagi baju-baju segar yang sejam lalu kamu ambil dari laundry?

kamu, dan aku mungkin, tidak pernah menganggap satu bangunan yang dilabelkan oleh mereka dengan nama ‘rumah’ adalah rumah. nyatanya, rumahmu adalah ruangan ukuran 4 kali 6 meter dengan nomor di daun pintunya. tujuanmu ada di daftar hotel, restoran, gambar kota dan referensi lain yang termuat dalam buku tebal bernama lonely planet. bahkan kitab suci kita pun berbau kesepian. jadi, apakah sebenarnya kita sesepi itu?

aku tidak berani bilang aku banyak keliaran sebanyak kamu mencoret-coret atlasmu. tapi aku tahu betapa berusaha map out malamku di hotel adalah penyiksaan tak terduga. semua rutin, semua sama. bahkan bahasa orang-orang itu pun serupa. selalu ada senyum yang disetel sama persis dari satu tempat ke tempat lain. konyolnya, bahkan cara mereka menggoreng omelet saja setipe dan serasa. coba aku tanya, bagaimana panasnya airmu buat mandi? juga sama. pertama sangat dingin dan lama-lama kalau tidak kamu setel ulang posisi kerannya, kulitmu akan terbakar kepanasan. bah. rutin. sama. serupa. sejenis. serasa. setipe. persis. apalagi?

sepertinya aku mulai mengerti kenapa kalau ada dua atau tiga hari tanpa jadwal berkeliaran, kamu selalu punya rancangan yang terkesan seperti spontanitas yang menggiurkan itu. ah, kamu tahu kan, aku selalu menggelepar dan meneteskan liur untuk setiap ajakan yang terkesan tanpa rencana (schedule dan rute mulai membosankan, sayang).

aku juga mengerti kamu pun pasti sama denganku -mau diakui atau tidak- kalau sehari dua hari menghilang dari perjalanan yang terstruktur dan mengesalkan itu sangat melegakan, tapi anehnya terkadang di satu sisi juga membawa efek kerinduan yang gila pada perjalanan lain. semacam lega terbebas sebentar untuk bisa tarik napas sebelum melompat lagi. tapi tidak pernah benar-benar bisa lama. sebab sebetulnya kamu bukanlah orang yang bisa tanpa pergi kemana pun.

makanya ini aneh. karena akhirnya pun selalu keluar kalimat: are we gonna do something? – anything. i dont care. – wanna go somewhere? – lets go then. – where? – anywhere but here? – i dont mind either.

so, there we go… another hit on the road. tapi mungkin bedanya kali ini bisa dilakukan bersama. tapi tetap sama saja bukan? kita benci peta, kita benci layanan kamar, kita benci bandara yang menyebalkan dan baju kotor yang dijejalkan ke ransel. tapi kalaupun ada kesempatan kita bisa ada di satu garis ordinat yang sama, kita pun lantas pecicilan ingin mengulang lagi hal sama yang ternyata itu adalah… hidup kita.

tidaklah sejatinya kita telah menjadi orang rutin yang memuakkan? tapi persetanlah…

just match our schedule, then go somewhere. oh no. we should learn to do something else, like cleaning out your house then shipping our tea at mine. what would you say?

Comments
  1. panggih says:

    replace ‘shite’ in the title with ‘c4’. probably could instantly kill ur bored-to-death-feeling.and many others.if you wanna have fun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s