buruk muka, foto urung diunggahkan.

Posted: 02/02/2011 in Uncategorized

“aku tahu betul aku bagaimana, tidak perlulah aku bertanya bagaimana diriku di mata orang lain.”

“kamu tahu, cermin itu fana. apa yang terpantul tidak selalu betul.”

“…grrrr.. foto lagi dong, yang barusan pipi gw keliatan temben banget!” –sambil menghapus file foto sebelumnya.

 

Seberapa mudah buat seseorang menerima penilaian -subjektif atau paling tidak diusahakan seobjektif mungkin- dari orang lain tentang dirinya sendiri? Betul, orang lain hanya akan menilai dari apa yang terlihat. Tapi apa yang terlihat biasanya adalah apa yang terkandung di dalamnya. Tipikal. Stereotip. Tapi banyak hal tipikal dalam dunia ini, seperti air tenang bertanda paling tidak airnya dalam. Atau barangkali saja tidak ada arus di dalam sana.

Yang tipikal tidak melulu benar dan apa adanya. Ada varibel lain yang menentukan. Besar atau kecil. Sama saja, sering dilompati untuk lebih cepat mendapatkan kesimpulan. Dunia ini makin tergesa, bung. Seperti tidak rela kehilangan satu menit untuk lebih dalam merenungkan.

Saya tidak ingin membahas kevalidan proses dari sebuah kesimpulan didapatkan. Mari dianggap semua telah melalui segala bentuk pertimbangan yang matang sebelum akhirnya disuling menjadi satu bentuk intisari yang akan dikonsumsi secara berjamaah bahwa inilah penilaian terbenar dan tersahih.

***

Ini mukamu, Ririen. Bopeng. Penuh jerawat dan sepertinya produksi minyak di hidung bisa dikeruk untuk pengganti minyak jelantah yang sudah hampir habis setelah dipakai menggoreng ikan asin tadi siang. Suaramu menyakitkan kuping. Kata-kata yang keluar dari mulutmu seperti kentut. Bau dan tidak bisa dianggap menenangkan. Intinya, kamu seperti sampah saja.

Ini perilakumu, Ririen. Menggelikan, konyol dan tolol. Kamu pikir bisa mengubah dunia dengan menganggap semua orang bisa diajak berubah sesuai kemauanmu? Apa maumu? Dunia tidak mau seperti kamu. Kamu sendirian. –Ya, saya pun merasa kesepian.

Lalu, sebagai manusia yang terlatih seumur hidup untuk lebih suka menelan kemunafikan daripada kebenaran dan kejujuran, tentu saja saya meradang. Saya tidak terima dikata-katai seperti itu. Coba dong, cek foto-foto di facebook saya. Mana ada yang jelek? Mana ada yang perut saya terlihat buncit? Tidak ada, bukan? Nah… lalu darimana semua yang dikatakan tentang saya adalah buruk semua dan berbeda dengan ‘saya’ yang sudah dengan susah payah saya kenalkan ke seluruh penjuru dunia lewat jaringan sosial paling asosial sedunia itu?

Saya tidak rela menerima pendapat orang lain yang saya anggap sok tahu sekali. Saya merasa kayaknya orang lain seperti lebih kenal saya daripada saya sendiri. Absurd.

Seperti jagoan kelahi dus ahli belati yang siap menikam siapa pun yang meyakiti, saya sudah hunuskan belati tumpul itu ke ubun-ubunnya. Saya siap belah itu batok kepala. Demi penasaran, otak kosong macam apa yang sudah dengan sangat tololnya menjatuhkan talak ‘Ririen itu adalah…” secara salah. Mereka menilai saya tidak sesuai dengan penilaian saya tentang diri saya sendiri. Tolol. Tidak mungkin begitu caranya.

Tapi…

Benarkah saya memang sudah tahu betul saya itu bagaimana? Betulkah saya sudah mengenal dengan baik diri saya sendiri? Apakah sudah betul apa yang selama tahunan ini saya pegang sebagai pengetahuan terbenar saya tentang diri saya sendiri? Bagaimana jika saya salah selama ini. Bagaimana kalau yang saya percaya sebagai karakter saya adalah sebuah riasan tebal yang saya bikin sendiri, yang ingin saya lihat, tapi bukan kesejatian yang mustinya saya lihat dan percaya?

Tadi saya sempat berada dalam pengingkaran yang dengan susah payah saya jejalkan ke otak saya, bahwa sebenarnya apa yang dianggap orang buruk tentang saya adalah proyeksi keburukan orang itu sendiri ke diri saya. Tadi, saya anggap orang-orang itu hanya merasa melihat pantulan diri mereka dalam diri saya, makanya mereka berusaha meyakinkan saya bahwa saya pun seperti mereka. Tidak sudilah kalau saya ditarik dalam lingkaran mereka. Saya bukan mereka. Mereka tidak seperti saya.

Tapi kemudian, saya pun ragu. Seragu apakah benar saya bisa tega membelah kepala orang hanya berbekal asumsi dia lebih tolol dari saya? Saya rasa saya tidak mampu berbuat itu.

***

Saya akan berbuat adil dengan mengakui bahwa ada hal baik dan menarik tentang saya yang mereka katakan. Tapi tidak perlu saya tulis, bukan? Saya tidak butuh onani macam itu. Saya hanya ingin merenungi yang mereka anggap susah. Saya ingin menyelami pikiran mereka dari hasil membaca saya. Seperti buku, saya ini sebenarnya sangat mudah ditelanjangi. Tidak perlu lagi mengeja. Bahkan membaca cepat -cuma melihat sekilas awal paragraf- pun akan berhasil menyimpulkan saya itu bagaimana dalam lima detik. Sekali lagi, proses membaca tidak jadi masalah bagi saya. Proses orang untuk mendapatkan kesimpulan itu pun saya anggap sudah tepat dan benar. Minimal batas kesalahannya hanya lima persen. Tidak signifikan.

Secara umum, saya bagi mereka adalah seorang sok pintar yang sok idealis, tidak peduli dengan aturan konvensional dan tidak mau tahu ada yang susah mengerti dengan apa yang saya sampaikan. Singkatnya adalah saya pembangkang yang egois dan keras kepala.

Saya  sebenarnya ingin sekali langsung mengiyakan dan kemudian tanda tangan hanya untuk bisa cepat-cepat melenggang dari situ. Tapi saya tidak lakukan itu, alih-alih saya merasa tertantang untuk mendebat. Padahal itu pancingan sebenarnya. Mereka sengaja memancing saya untuk berbuat persis yang mereka inginkan, agar tudingan itu terbukti. Dan akhirnya memang mereka makin yakin: saya suka menentang, keras kepala dan egois. Bukan masalah benar atau salah, yang terpenting adalah tentang dulu. Kalah atau menang, urusan belakangan.

Itu semua berjalan sesuai skenario. Milik mereka tentunya. Saya kan cuma terdakwa yang tidak tahu kalau sedang dipancing untuk secara tidak sadar membenarkan semua tuduhan. Tadi saya kesal tentu saja. Tapi sekarang saya pingin sekali ketawa ngakak. Sialan. Saya memang buruk rupa dengan koleksi foto hasil manipulasi photoshop!

***

Jadi sekarang, setelah akhirnya saya bisa dengan jujur menerima kenyataan saya (betulan) buruk rupa, tetap saya tidak mau terima solusi dari mereka yaitu kompromi (tuh kan, bahwa saya masih sempat loh berusaha menentang).

Tapi tentangan ini lebih seperti cara saya bersikap. Baiklah, saya akui dan terima penilaian itu. Cuma, bolehlah saya untuk tidak mau berkompromi seperti mau mereka? Sebab bagi saya, kompromi adalah hal paling melelahkan dan akhirnya hanya akan melahirkan dendam kesumat ketika kompromi sudah tidak mungkin lagi dilakukan.

Saya tidak mau kompromi. Saya hanya ingin sementara ini saya memikirkan cara terbaik untuk saya dan mereka bisa saling menerima keburukan kami masing-masing. Buruknya saya sudah sama-sama kami setujui. Saya coba berdamai dululah. Biarlah saya pelan-pelan menerima dan mengakui saya ini buruk. Nanti pasti saya tahu caranya supaya saya tidak perlu repot-repot menutup bopeng dengan foundation dan bedak. Nanti juga saya tahu bahwa keburukan saya sekarang ini adalah aset mereka suatu saat nanti. Belum tahu kapan, tapi pasti akan terjadi. Lalu kita semua akan jadi lebih bahagia. Tidak ada yang telah merasa kebanyakan berkorban dan mengorbankan.

Ada satu masa nanti, bahkan saya pun bisa bilang ke mereka, muka mereka sangat buruk tapi tetap manis untuk diunggah di laman facebook mereka. Apa adanya.

 

 

Comments
  1. […] This post was mentioned on Twitter by hattakawa, Ririen Juandhi. Ririen Juandhi said: buruk muka, foto urung diunggahkan.: http://t.co/xXBEBy0 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s