ribuan cara menghabiskan masa

Posted: 18/06/2011 in Uncategorized

… oh tell me where your freedom lies. the streets are fields that never die.

deliver me from reasons why… you’d rather cry, i’d rather fly.

(crystal ship; the doors; 1967)

lagu ini sering banget diasosiasikan dengan penggunaan narkotika. tapi banyak yang percaya bahwa ini hanyalah metafor dari kesedihan dan pengharapan Jim akan kembalinya seorang perempuan yang pernah dengan kejam meninggalkannya. kisah cinta penuh tamparan dan tonjokan berat di rahang selalu dipenuhi kontradiksi. apalagi ketika yang bicara adalah satu tokoh penuh gelimang obat dan jarum suntik.

tapi sebuah puisi, tulisan atau apapun ketika sudah tersebar akan dimiliki oleh si pembaca, bukan lagi barang personal sang pembuat. pembaca akan punya hak mengintepretasi sesuai pengalaman dan pengetahuan pribadinya. demikian kata seorang kritikus yang selalu menggemborkan slogan kebebasan apresiasi penikmat.

pun, saya akan secara sembrono mengaitkannya dengan kondisi mental saya ketika mendengar dan mencerna secara kasar lagu ini.

 

Before you slip into unconsciousness

I’d like to have another kiss

Another flashing chance at bliss

Another kiss, another kiss

di bagian ini, saya melihatnya sebuah kesempatan dalam kesempitan. seperti sebuah pertemuan pendek sebelum benar-benar bilang selamat tinggal. bukannya sampai jumpa.

atau anggaplah ini lima menit terakhir sebelum hidup betul-betul akan membuat saya dan kesempatan itu menjadi sebuah frasa: terasing satu sama lain.

pertanyaan garing yang selalu ada dalam film-pengennya-romantis seperti “kalau kamu tahu hidupmu tinggal semenit, apa yang akan kau lakukan”  –akan betul-betul dimanfaatkan untuk menggambarkan kondisi ini. serius, kalau ini kesempatan terakhir, apa yang akan dilakukan?

apa yang akan kamu, kalian ucapkan sebagai kalimat terakhir sebelum peluit kereta meniupkan sinyal keberangkatan menuju tempat ratusan mil dari tempatmu berdiri dan tak akan pernah kembali?

tapi sayangnya, seperti manusia terbodoh lainnya, saya selalu tidak pernah tahu kapan ini akan dibilang kesempatan terakhir. saya akan selalu optimis (atau berharap berlebih?) bahwa nanti juga akan datang lagi. ini bukan akhiran, ini hanya jeda. dan ternyata… seringnya saya salah. lalu kesempatan yang terlewatkan itu hanya menjadi satu penyesalan yang baunya seperti cuka kadaluarsa lima puluh tahun. tengik.

cerita selanjutnya tertebak: saya tidak pernah lagi berkesempatan merasakan kesukacitaan terakhir. ya apa gunanya ciuman dengan seorang yang semaput?

 

The days are bright and filled with pain

Enclose me in your gentle rain

The time you ran was too insane

We’ll meet again, we’ll meet again

kemudian hari bergulir. orang lain menganggap matahari dan cerahnya pagi adalah suka cita yang harus diberi tumbal. tumbalnya adalah saya yang tersiksa oleh rindu pada gerimis yang seandainya bisa turun seharian penuh. kalau perlu sebulan, setahun, atau seabad. siapapun yang mengutuk hujan adalah seseorang yang tidak pernah merasakan manfaatnya untuk menyembunyikan air mata. bukankah berdiri tersedu dalam hujan adalah penyamaran terhebat?

sejujurnya ketika menjadi tumbal, saya merasa heroik sekali. kepuasan telah menjadi berguna saya otak atik hingga tercipta ilusi akan pahala mendapatkan kesempatan bertemu kesempatan lain yang lebih bagus. kita akan bertemu lagi. kita akan bersua lagi. kamu atau apa pun itu akan terbangun dari pingsan berkepanjangan. kamu atau apapun itu akan membuka mata setelah kubekap mulut dan hidungmu dengan sepuluh liter minyak kayu putih.

bagaimana menurutmu? bukankah menjadi korban sekaligus penolong adalah ide tercakep?

satu sisi dorongan masokis saya terpenuhi, dan sebaliknya kebungahan akan rasa bangga menjadi sosok heroine telah tercukupkan tanpa harus melatih kecakapan bela diri dan kemampuan menembak tepat sasaran.

 

Oh tell me where your freedom lies

The streets are fields that never die

Deliver me from reasons why

You’d rather cry, I’d rather fly

sesi pengingkaran terlewati. nah, ini sesi selanjutnya yang meyebalkan. mulai mempertanyakan…

selayaknya seorang yang kehilangan tuhan, di bagian kenapa tuhan menuliskan hidupnya seperti ini seperti itu, selalu jadi keriuhan tersendiri di otak.

kenapa tuhan tidak membuatnya seperti orang biasa lainnya, yang punya garis lurus, tidak naik turun, tidak ada jurang yang harus dilompati, tidak ada tebing yang wajib disusuri pelan supaya tidak terperosok ke lautan yang dalam dan curam?

seribu kenapa selalu memantulkan jawab kenapa yang berkepanjangan. tanpa jawaban pasti hanya menimbulkan dua kemungkinan jalan keluar: menangisi nasib atau melarikan diri.

saya sudah pernah melakukan keduanya. menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan dan kembang gula. berharap ada yang kasihan, lalu menuntun masuk ke toko terdekat. tapi biasanya ini tidak berhasil. semua orang terlalu sibuk dengan suara-suara di kepalanya sendiri. jadi jeritan minta belas kasihan hanya jadi sebuah suara atmosfir yang tidak penting. makanya, saya berhenti menangis. percuma.

saya lari saja. seperti forrest gump si pelari yang terus berlari tanpa tahu sebabnya apa. oh tidak. saya tahu sebab saya lari. selain sebagai kebutuhan olah badan, tentu saja lari ini dimaksudkan untuk menghindari yang tidak enak-enak. tahukah kamu, kalau dasar semua bela diri adalah lari? yap. saya lari sebagai langkah awal membela diri dari kekalahan terhadap hidup yang saya ciptakan sendiri. tugas tuhan memberikan beberapa alternatif pilihan dan efek sampingnya. apapun hasilnya itu pilihan saya. jadi bisa dikatakan ini hidup bukan campur tuhan saja, tapi sebagian besar adalah hasil ketololan saya sendiri.

di titik ini saya mulai sadar, tuhan tidak salah apa-apa. toh dia sudah sibuk dengan alam semestanya. saya pun cuma seekor semut di peternakannya yang maha besar itu. kalau saya yakin tuhan tidak tahu eksistensi saya, apakah saya salah? apakah saya berdosa?

lebih berdosa mana dengan menganggap tuhan telah dengan sengaja dan dengan jahatnya selalu bilang ‘tidak’ pada semua keinginan saya? bukankah yang terakhir itu malah menempatkan posisi tuhan sebagai pembantu pribadi saya?

saya lebih suka meletakkan tuhan di posisi paling dominan. dan saking dominannya tidak ngeh kalau ada saya di dasar terdalam peternakannya. memangnya saya makhluk hebat apaan sehingga pantas menuntut untuk terlihat? bah.

 

The crystal ship is being filled

A thousand girls, a thousand thrills

A million ways to spend your time

When we get back, I’ll drop a line…

baiklah. inilah masa sekarang. setelah semuanya terjadi dan semboyan ‘gantunglah cita-cita setinggi langit’ adalah upaya pemupukan semangat paling menjijikan (saat ini), maka apa yang akan kau lakukan ketika menua dan masa muda penuh kesempatan sudah jadi terlalu linear dan sombong untuk diputar kembali?

tidak ada yang lain kecuali membangun kendaraan yang akselerasinya menuju kematian bisa diatur sendiri. bukan bunuh diri. ada jalan yang lebih terhormat. ibaratnya semacam bunuh diri juga tapi terkesan keren. loh, di jaman semuanya harus dibungkus dengan citra dan penampakan yang cantik, saya juga harus kreatif untuk tampak jagoan dong.

ada banyak cara mengisi waktu yang sebetulnya kosong. bukan untuk membuat monumen pribadi yang akan dikenang penduduk sekota setelah saya mati. saya tidak seobsesif itu… masih hidup saja saya tidak ‘tampak’ apalagi setelah mati? ini juga bukan semacam rekaman yang akan mengukuhkan kebenaran kalimatnya rumah efek kaca *yang terekam tak pernah mati.

bukan, ini cuma cara menghabiskan waktu dan mengalihkan perhatian dari penyesalan telah menghilangkan ribuan kesempatan. banyak cara untuk mati secara gagah yang bisa dipelajari. banyak ketegangan yang harus dicicipi. banyak kesenangan yang harus dinikmati… harus juga belajar mengeksploitasi setiap orgasme tanpa perlu mengajak perasaan dan hati turut serta. ya untuk apa bawa-bawa hati? hati selalu mengajak bunuh diri. dan saya sedang tidak tertarik bunuh diri dengan cara menyedihkan seperti itu.

dan nanti ketika betul-betul sudah sampai di akhiran (when we get back: i’ll drop a line…)

ketika betul-betul akhiran bukanlah sebuah awalan untuk apapun, saya akan bisa nyaring bilang: saya sudah selesai dan berhasil memanipulasi kecewa menjadi sebuah amunisi semangat mencari cara mati terhebat dan tidak dibilang cengeng.

saya tidak tahu, nanti matinya di mana: di antara rongsokan kapal titanic, atau nyangkut di puncak kilimanjaro. yang penting bukan di ujung belati. dan yang penting sebelum mati merasakan setruman adrenalin dulu.

 

[untuk hidup yang 3/4 nya bergantung nasib. ini untukmu juga… aku akan bertemu lagi kan? eh… ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s