Kenapa mau repot berbuat baik?

Posted: 04/04/2012 in Uncategorized

Jack Johnson pernah menulis lagu tentang mulai langkanya orang baik lewat lagunya Good People. Tentu saja dia ada benarnya, sebab dia cuma mereferensi tayangan TV. OK, kita anggap semua paham ya, kenapa TV lebih suka memberitakan drama superficial demi rating. Hei, kalian penonton pun mulai suka hal-hal yang berbau konflik, konspirasi dan dramatisasi dari apapun. Kenapa? Mungkin saja hidup kalian terlalu membosankan, hingga lebih suka bermain-main di ranah semi-realita-semi-hiperbola. Atau, mungkin juga kalian senang melihat derita karena demi melihat yang menyakitkan itu, kalian akan punya alasan bersyukur, paling tidak kejadian itu tidak menimpa kalian. Terserah.

Tapi mungkin, yang terlewatkan oleh Johnson, (atau mungkin ini sindiran yang sengaja dibuat simpel, entahlah) sebenarnya masih banyak orang baik. Lebih banyak dari orang sinis (aku mungkin salah satunya, yang bahkan sambil menulis ini pun sedang sinis-sinisnya memandang diriku sendiri. Menyedihkan bukan?)

Kamu bisa menambahkan daftar orang baik setelah ini, tapi biar aku cerita tentang dua orang ini sebelumnya. Pertama, adalah seorang mantan guru yang tiap hari berusaha membantu pengobatan orang-orang dengan gangguan mental dari yang ringan sampai yang berat. Dia membentuk tim secara sukarela dengan biaya sendiri -yang katanya, entah datang dari mana, selalu saja ada untuk mendukung aktifitasnya.

Tiap hari, dengan ojeg, terkadang dengan motor tuanya dia akan berkeliling ke pelosok Cianjur untuk memberikan pemahaman bahwa gangguan mental itu bisa sembuh, dan tidak ada hubungannya dengan klenik dan gangguan setan. Ini yang berat. Dari pemahamanku selama ini pun, masyarakat kita masih percaya bahwa seseorang menjadi sakit mental karena diguna-guna atau kualat atau kurang iman atau.. apapun yang tidak masuk akal. Pengertian bahwa penyakit ini seperti umumnya penyakit fisik lainnya belum sampai di pengetahuan mereka. Benar-benar tidak tahu karena tidak ada memberitahu atau sesederhana menganggap ini akibat kekuatan lain di luar dirinya sebagai bentuk pengingkaran. Malu, takut dan bingung, itulah penghalang utama untuk bisa membuka pikiran mereka. What the hell… di sekolah pun kita tidak diajarin hal ginian. Dokter pun sangat kurang. Apa sih yang tidak kurang di negeri yang semakin jauh panah waktu melesat ini malah semakin entropik tak terkendali?

Mengikuti kelompok ini berkeliling, dan bertemu para keluarga yang naif ini melelahkan sekali. Saya capek secara mental. Fisik saya cukup kuat untuk berjalan sekian kilometer naik turun bukit. Berjam-jam berdesak-desakan dalam mobil, itu tidak seberapa. Tapi setiap sepuluh menit mendengarkan dan melihat mereka berinteraksi, bahkan cuma sekedar untuk ngasih tahu bagaimana cara memberikan obat pada pasien yang sangat paranoia itu membuat saya mual. Saya sakit. Saya merasa ini tidak ada harapan. Tapi saya melihat kelompok ini terutama Nurhamid, si ketuanya, begitu terdeterminasi, begitu komit dan punya endurance yang luar biasa untuk setiap hari melakukan hal yang sama seperti ini membuat saya menangis. (well, tidak secara literal. saya lupa kapan terakhir nangis. Ini bukan ungkapan sok-sokan. Mungkin sudah saatnya saya pun memeriksakan otak saya)

Di ujung perjalanan, aku bertanya pada Nurhamid. Kenapa sih mau repot melakukan ini semua? Dia cuma ketawa sambil bilang: “… Susah ya untuk bisa paham kenapa masih ada orang baik? Mbak kamu tidak sendiri, banyak yang curiga kenapa saya melakukan ini semua.”

Sumpah, aku ingin meralat statementnya. Ok, mungkin sebelum aku ikut dia langsung, ada sedikit kecurigaan dia punya agenda tertentu. Dari yang sederhana dia mungkin terlibat perjanjian dengan perusahaan farmasi atau ada upaya berbau tujuan egois lainnya. Tapi itu sebelum aku melihat dan merasakan langsung keterlibatan mereka dan bagaimana susahnya bisa masuk ke dalam keluarga pasien itu. Setelah itu semua aku merasakan perubahan drastis untuk berada di pihaknya. Tapi tetap, argumenku tidak berhasil. Dia tetap tidak mau bilang alasannya apa, dan meninggalkanku dengan teka-teki gampang-gampang susah. Gampangnya bisa saja aku mengaitkan ini dengan latar belakangnya. Tapi itu mungkin benar menurut versiku, tapi tidak betul secara realitasnya. Sial! Susah amat sih, nyari tahu kenapa orang mau berbuat baik?

Jawaban dari pertanyaanku ke Nurhamid, mungkin terjawab ketika aku menanyakan hal serupa pada orang lain. Kali ini, korban pertanyaanku adalah seseorang yang mau meluangkan waktu selama makan siang untuk (awalnya) menerima berjibun pertanyaan konyolku, dan kemudian di akhirnya dia akan punya seribu senjata untuk bersikap bully dan menindasku mati-matian. Ah biarin, aku anggap itu konsekuensi dari usaha memperoleh jawaban.

Aku tidak akan secara detil memberikan informasi tentang orang kedua ini. Anggaplah dia seorang yang cukup established di dunia layar lebar yang menurutnya adalah sebuah dunia dimana orang yang berhasil masuk ke dalamnya seperti menaiki Lamborghini bukannya truk pick up (hei, itu aku kali yang naik pick up kesana sini?)

So It IS intriguing. Dia sehari-hari mengupayakan untuk terus bisa ngebut dengan mobil mewah, tapi di sela-sela waktunya dia masih mau dan mampu memberikan apa yang dia punya dalam tataran sosial. Memberikan pelajaran dan workshop membuat film buat remaja dengan bayaran yang mungkin akan sekali habis di bar atau coffee shop biasa dia nongkrong. Lalu kenapa dia mau melakukan itu? Lagian kegiatan ini tidak membuatnya makin terkenal atau membawanya ke kontrak membuat film berbudget milyaran. Kenapa mau jadi ‘guru’ seperti itu?

“Ketika kamu sudah berada di kisaran umur 30-an, tujuan hidupmu akan berubah. Kamu akan mulai berpikir dan melakukan sesuatu untuk orang lain. Kalau kamu sudah menikah, dedikasimu adalah untuk keluarga. Anak, istri dan cara untuk mencukupi kebutuhan mereka. Sedangkan orang yang masih single, dengan kebutuhan memenuhi kebutuhan orang lain disamping kebutuhan pribadinya, kita akan melakukan ke orang-orang lain. Kenapa anak dan remaja? Karena masalah bukan hanya BBM naik dan korupsi. Masalah di seputar remaja juga banyak, dan merekalah nanti sepuluh tahun ke depan akan jadi pemimpin negara ini. Kalau mereka dibiarkan tumbuh dalam ordered chaos (ungkapan aneh tapi ya emang sih begitu) seperti sekarang tanpa kita berusaha masuk ke dalam dunia dan masalah mereka, akan jadi apa bangsa kita?”

Jadi, secara spiritually dan naturally, orang akan berbuat baik bagi orang lain di umur tertentu? Ya, katanya. Kecuali orang tersebut masih berambisi mengejar pemenuhan pribadinya yang belum dicapai. *sial… aku seperti buku yang terbuka lebar.

“Jadi, apa yang masih kamu cari sampai sekarang? Apa yang belum kesampaian…?”

Lalu aku seperti deja vu. Bulan sebelas tahun lalu, di Tarempa yang bisa dideskripsikan sebagai a far far away land, seorang bocah dengan lugu bertanya: Kakak orang apa?

Orang apa? Bukan ‘siapa’… dan bukan orang ‘bagaimana’. “Aku orang apa?”.  “Ya,” katanya, “kalau aku orang Buddha, dia (sambil menunjuk temannya yang lebih mungil) dia orang Katolik.” — Oh, minimal dia tahu dia orang (yang memeluk agama) apa.

Comments
  1. Bayu JB says:

    Jadi kamu orang apa Rin ? ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s